Rabu, 04 Januari 2012

PROSES

Banyak sekali autobiografi dari orang-orang sukses yang pernah kita baca seperti: Akio Morita (Sony Co.), Donald Trump, Lie Ka Shing, Rockefeller, dll. Buku ini mempunyai efek dimana biasanya orang-orang menjadi bersemangat untuk menjadi/meraih kesuksesan seperti mereka. Ada satu bagian yang kita lupakan setelah membaca buku-buku tersebut yaitu proses. Seringkali kita melihat kesuksesan mereka tetapi kita tidak mau melihat prosesnya yaitu bagaimana mereka dari tidak punya apa-apa terus berusaha keras hingga menjadi perusahaan internasional yang sangat besar. Setiap hal selalu ada proses, baik itu dari segi produksi maupun manusia. Proses dalam produksi biasanya ialah bahan baku—pengolahan—barang jadi dimana waktunya tergantung dari kapasitas mesin dan banyaknya tenaga kerja yang tersedia.

Dalam kehidupan manusia pun mengalami hal yang sama seperti pada proses produksi. Banyak orang seringkali melupakan atau tidak suka apabila melalui suatu proses. Kesamaan proses produksi pada proses manusia ialah seperti ilustrasi seperti ini:

Pada proses produksi sebelum memulai kita memerlukan bahan baku, begitu pula pada manusia kita juga memerlukan bahan baku. Apa saja bahan bakunya yaitu : karakter, keahlian, dan pengetahuan yang dimana diperlukan untuk menunjang suatu pekerjaan yang sedang kita tekuni saat ini baik itu usaha sendiri maupun kerja pada suatu perusahaan. Kemudian pada proses produksi memasuki tahap pengolahan dimana bahan baku tadi diolah. Sama juga seperti manusia juga bahan bakunya diolah, contoh : bila kita bekerja maka karakter, keahlian, dan pengetahuan kita diolah dengan mengalami yang namanya kerja keras, masalah, belum datangnya masa panen (kesabaran), dan lain sebagainya. Dimana dalam proses ini kita sebaiknya berespon dengan benar, karena kita tidak dapat mengatur/mencegah masalah yang dating pada kita tetapi kita dapat mengatur respon kita terhadap masalah yang terjadi. Tetapi manusia mempunyai kelemahan yang manusiawi dimana yang dilakukan ialah: mengeluh baik ke sesamanya, tidak sabar ingin cepat waktunya, melihat hasil tetapi tidak ingin mengalami hal yang ini, menyerah pada keadaan dengan berhenti kerja/pindah kerja atau mengganti jenis usahanya, bahkan yang terparah ialah stress, menjadi gila/sakit jiwa, bunuh diri, narkoba, dan lain sebagainya sebagai usaha dari pelarian terhadap masalah tersebut. Selanjutnya ialah proses terakhir yaitu barang jadi. Pada manusia proses barang jadi ialah pencapaian apa yang kita harapkan/inginkan dan kesuksesan yang diraih dengan hasil kerja keras dan berusaha sungguh-sungguh serta bersuka cita selalu. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.

(Eric Erlington Hudijana)

 

ARTI KEHIDUPAN

Banyak tokoh, budayawan, seniman, pujangga terkenal menerjemahkan Arti Kehidupan itu dalam berbagai karya, dengan pandangan dan ungkapan mereka sendiri.Kita mengenalnya pula dalam dunia sastra lama maupun modern, dalam syair-syair lagu-lagu tradisional hingga lagu-lagu pop. Namun ada satu kesamaannya: arti kehidupan itu merujuk pada sesuatu yang damai, saling memahami dalam tata kehidupan sosial yang makin lekat.

Teman-teman yang luar biasa!!

Pada talkshow tadi pagi saya membawakan cerita menarik dalam rangka memahami arti kehidupan itu. Seorang anak muda bertanya pada seorang tua bijak, “Bagaimana caranya membuat diri sendiri selalu gembira dan bahagia serta sekaligus bisa membuat orang lain selalu gembira?”

Apakah teman-teman punya jawabannya? Dalam pepatah China, ada jawaban untuk pertanyaan itu. Pertama, anggap dirimu seperti orang lain. Kedua, anggap orang lain seperti dirimu. Ketiga, anggap orang lain seperti mereka. Dan keempat, anggap dirimu sebagai dirimu sendiri.

Mempraktikan keempatnya tidaklah gampang. Namun, menurut orangtua bijak itu, melakukannya sangatlah mudah. “Renungkan dan gunakan waktumu seumur hidup untuk belajar dan mengalaminya sendiri.”Itulah arti kehidupan.

Dalam makna belajar itu yang terangkum dalam keempat poin tadi, kita dituntut untuk belajar mencintai kehidupan dan belajar berinteraksi dengan manusia lain di muka bumi ini. Selama kita mampu menempatkan diri, tahu dan mampu menghargai hak-hak orang lain, serta mengerti pula keberadaan jati diri sendiri di setiap jenjang proses kehidupan, maka kita akan menjadi manusia yang lentur. Dengan begitu, ke mana pun kita bergaul akan mendapat tempat dan selalu memberikan kehangatan, kedamaian, dan kegembiraan.

(Arti kehidupan  penulis : Andrie Wongso )

 

Selasa, 03 Januari 2012

NICE STORY

a boyfriend a gave challenge to his girlfriend to live a day without him.

No communications at all and said if she passed it, he will love forever..

The girlfriend agreed. She did not text or call him a whole day.

Without knowing that her boyfriend has only 24 hours to live because he's suffering from cancer..

She excitedly went to her boyfriend house the next day. Tears fall as she saw her boyfriend lying

on the coffin with a note on side.

"you did it baby, can u do it everyday? i love you"

 

 

-LIFE LIKE A BOOK-

Hidup manusia seperti sebuah buku...
Cover depan adalah tanggal lahir...
Cover belakang adalah tanggal kematian...
Tiap lembarnya, adalah tiap-tiap hari dalam hidup kita dan apa yg kita lakukan.
Ada buku yg tebal,ada buku yg tipis.
Ada buku yg menarik dibaca,ada yg tidak sama sekali.
Sekali menulis, tidak akan pernah berhenti sampai selesai   

Yg hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih, baru dan tiada cacat.
Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, Tuhan selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.
Kita selalu diberi kesempatan yg baru utk melakukan sesuatu yg benar dalam hidup kita setiap harinya, memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita yg sudah ditetapkanNya untuk kita masing-masing.
Bersyukur  utk hari yanğ baru ini.
Nikmatilah dan isilah halaman buku kehidupanmu dgn hal² yg benar.
Dan jangan lupa, untuk selalu bertanya kepada Tuhan, tentang apa yg harus ditulis tiap-tiap harinya.
Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupanmu selesai, engkau didapati sebagai pribadi yg berkenan kepadaNya.
Dan buku kehidupanmu layak untuk dijadikan teladan bagi generasi setelahmu.
Selamat menulis di buku kehidupanmu, dengan tinta cinta dan pena kebijakan. Tuhan  memberkati kita semua.

Amiin....

 

(FROM EMAIL MY FRIEND)

 

 

"YANG BISA DICINTAI"

Bila anda tak mencintai pekerjaan anda,

maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana.

Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu, dan

pekerjaan pun jadi menggembirakan.

Bila anda tak bisa mencintai reka2 kerja anda,

maka cintailah suasana dan gedung kantor anda.

Ini mendorong anda utk bergairah berangkat kerja

dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.

Bila anda jg tidak bisa melakukannya,

cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan

ke tempat kerja anda.

Perjalanan menyenangkan menjadikan tujuan

tampak menyenangkan juga.

Namun, bila anda tak menemukan kesenangan

di sana, maka cintai apa oun yang bisa anda cintai dari kerja anda : tanaman penghias meja, atau gumpalan awan dari balik jendela, apa saja!

Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda ada di situ ?

Tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan.

Cepat pergi dan carilah yang anda cintai, lalu bekerjalah  di sana.

Hidup hanya sekali,

Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.

(sumber : Percikan Hati)

Senin, 02 Januari 2012

INFO KRIMINAL TG.PRIOK

Hati-hati dijalan tol tanjung priok arah cawang rawan gerombolan tukang todong naik kejalan Tol Dalam Kota jika sdg dlm kondisi padat.
Copy paste dari email dan broadcast bbm :

Hari selasa kemarin ada teman yang naik mobil dirampok diatas jalan tol depan Artha Gading , Pelaku sebelumnya juga meminta uang secara urut dari mobil depan sampai ke mobil belakang dan saat sampai dimobil teman saya, pelaku langsung meminta paksa barang-barang yang ada di jok mobil dan mengambil paksa  sebuah handphone Blackberry Javelin yang ada dikantong baju karena kebetulan teman saya tidak menutup rapat kaca jendela mobilnya.

Pelaku melihat teman saya cuma sendiri diperkirakan pelaku memang sering beraksi di jln tol yg memang sedang macet di jam plg kerja dan mengincar org yg mengemudikan mbl sendirian.
Sebarkan ini agar or
ang lebih berhati-hati lagi dijalan tol yang sedang padat dan simpanlah barang-barang berharga ditempat yg tidak terlihat dari luar dan jangan membuka kaca karena di jalan tol tidak menjamin kita bebas dari kawanan manusia sampah..!!!

Kalau harus ke Bandara pagi hari (Shubuh) juga hati-hati dipecahan arah Bandara dan Tg. Priok suka ada gerombolan melempar batu, tujuannya kalau kaca pecah kita berhenti pasti dirampok.

 

BE CAREFULL J

(From Email and Broadcast Blackberry)

 

JAPANESE BOY TEACHES A LESSON

Adakalanya keluhuran budi baru tampak cemerlang disaat-saat kegelapan...Seperti dalam kisah dibawah ini, tentang seorang anak laki-laki 9 tahun di Fukushima yang menampilkan kedewasaan mental yang sungguh luar-biasa. Sungguh mengagumkan, sungguh
mempesonakan...
SSHB,nk
EDITOR’S note: THIS letter, written by Vietnamese immigrant Ha Minh Thanh who works in Fukushima as a policeman to a friend in Vietnam, was posted on New America Media (NAM) on March 19. It is a testimony to the strength of the Japanese spirit, and an interesting slice of life near the epicentre of Japan’s crisis at the Fukushima nuclear power plant. It was translated by NAM editor Andrew Lam, author of “East Eats West: Writing in Two Hemispheres.” Shanghai Daily condensed it.

 Brother,   
    
 How are you and your family? These last few days, everything was in chaos. When I close my eyes, I see dead bodies. When I open my eyes, I also see dead bodies.  
    
         Each one of us must work 20 hours a day, yet I wish there were 48 hours in the day, so that we could continue helping and rescuing folks. We are without water and
electricity, and food rations are near zero. We barely manage to move refugees before there are new orders to move them elsewhere. I am currently in Fukushima, about 25 kilometres away from the nuclear power plant. I have so much to tell you that if I could write it all down, it would surely turn into a novel about human relationships and behaviours during times of crisis. People here remain calm – their sense of dignity and proper behaviour are very good – so things aren’t as bad as they could be. But given another week, I can’t guarantee that things won’t get to a point where we can no longer provide proper protection and order.  They are humans after all, and when hunger and thirst override dignity, well, they will do whatever they have to do. The government is
trying to provide supplies by air, bringing in food and medicine, but it’s like dropping a little salt into the ocean. 

         Brother, there was a really moving incident. It involves a little Japanese boy who taught an adult like me a lesson on how to behave like a human being. Last night, I was sent to a little grammar school to help a charity organisation distribute food to the refugees. It was a long line that snaked this way and that and I saw a little boy around 9 years old. He was wearing a tee-shirt and a pair of shorts. 

It was getting very cold and the boy was at the very end of the line. I was worried that by the time his turn came there wouldn’t be any food left. So I spoke to him. He said he was at school
when the earthquake happened. His father worked nearby and was driving to the school. The boy was on the third floor balcony when he saw the tsunami sweep his father’s car away.  I asked him about his mother. He said his house is right by the beach and that his mother and little sister probably didn’t make it. He turned his head and wiped his tears when I asked about his relatives. 
   
  The boy was shivering so I took off my police jacket and put it on him. That’s when my bag of food ration fell out. I picked it up and gave it to him. “When it comes to your turn, they might run out of food. So here’s my portion. I already ate. Why don’t you eat it?” The boy took my food and bowed. I thought he would eat it right away, but he
didn’t. He took the bag of food, went up to where the line ended and put it where all the food was waiting to be distributed. I was shocked. I asked him why he didn’t eat it and instead added it to the food pile. He said, “Because I see a lot more people hungrier than I am. If I put it there, then they will distribute the food equally.” When I heard that I turned away so that people wouldn’t see me cry.  

     A society that can produce a 9-year-old who understands the concept of sacrifice for the greater good must be a great society, a great people.  Well, a few lines to send you and your family my warm wishes. The hours of my shift have begun again. 
Ha Minh Thanh 
PS: When a country can produce a nine-year-old boy who can think like that and we, in this country, have a political party riven with adults who think nothing but corruption, theft, greed, sex, rape, racism and exploitation, you
can see how deeply troubled we are.-------

 

(Get Email from Mia Vania Rustandi)

 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons